Saturday, August 29, 2009

Akhlaq Bertetangga

“ Kamu sembahlah Allah dan jangan kamu mempersekutukanNya dengan suatupun dan berbuat baiklah kepada ibu bapa,karib kerabat,anak yatim,orang-orang miskin,tetangga yang dekat dan tetangga yang yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan kepada hamba sahaya kamu”. (Surat An-Nisa’, ayat 36)

A. Berbuat baik

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sebaik-baik sahabat di sisi Allah adalah sebaik-baik manusia kepada sahabatnya, dan sebaik-baik tetangga adalah orang yang paling baik terhadap tetangganya”. (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi)

Rasulullah bersabda: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya dia berbuat baik pada tetangganya." (Diriwayatkan oleh Imam Muslim no: 48 dalam kitab al Iman. Kitab Syarah Riyadhush Shalihin V/207-208)

Rasulullah bersabda, "Demi Allah tidaklah beriman, demi Allah tidaklah beriman!" Kemudian beliau ditanya, "Siapa, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Orang yang tetangganya tidak aman dari kejelekannya (kejahatannya)." (Diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain Beliau bersabda, "Tidak akan masuk surga orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya (kejelekannya)." (Diriwayatkan oleh Muslim no: 47 dalam Kitab Al Iman)

Rasulullah pernah ditanya tentang dosa-dosa besar di sisi Allah. Beliau menyebutkan tiga macam: "Menjadikan Allah sebagai tandingan padahal Dialah yang menciptakan kita, membunuh anak karena takut dia akan makan harta kita dan menzinai istri tetangga."

Dalam hadits lain disebutkan: "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah menyakiti tetangga."

Pernah ada seorang lelaki datang menemui Rasulullah, lalu berkata, "Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amalan yang apabila aku mengerjakannya akan memasukkanku ke dalam surga." Beliau pun berkata, "Jadilah engkau orang yang muhsin (selalu berbuat baik)." Dia bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana saya mengetahui bahwa saya adalah orang muhsin (yang berbuat baik)?" Beliau menjawab, "Tanyalah tetanggamu, jika mereka mengatakan kamu adalah orang yang baik, maka kamu adalah orang yang baik; sebaliknya jika mereka mengatakan engkau adalah orang yang jelek maka engkau adalah orang yang jelek." (Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dari Abu Hurairah)

B. Menutupi aib

“Barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan di Akhirat.” (HR. Muslim).

D. Bersabar

Hendaknya seorang muslim bersabar dari gangguan tetangganya, walaupun tetangganya itu kafir.
Diriwayatkan dari Sahl bin Abdullah At-Tastari bahwa dia mempunyai seorang tetangga yang kafir. Tetangganya itu mempunyai jamban yang telah penuh sehingga kotorannya meluap ke rumahnya. Sedangkan Sahl setiap hari harus meletakkan bejana untuk menampung luapan kotoran dari jamban orang majusi itu. Dan di malam harinya dia membuang kotoran tersebut agar tidak ada orang yang melihatnya. Beliau hidup dalam keadaan seperti ini dalam waktu yang lama sampai menjelang kematiannya. Suatu hari dia memanggil tetangganya itu dan berkata, "Masuklah ke rumah dan lihatlah apa yang ada di dalamnya!" Lalu, masuklah tetangganya dan melihat tumpahan kotoran dari rumahnya jatuh ke dalam bejana dan seketika itu dia berkata, "Hah, apa yang aku lihat ini?" Berkatalah Sahl, "Ini sudah berlangsung sejak lama. Kotoran ini jatuh dari rumahmu masuk ke rumahku ini, dan aku menampungnya di siang hari kemudian aku buang di waktu malam. Kalaulah bukan karena sudah dekat kematianku, dan kalaulah aku tidak takut sepeninggalku nanti orang-orang tidak bisa sabar dengan kejadian ini, niscaya tidak akan aku khabarkan hal ini kepadamu dan akan tetap aku biarkan hal ini terus terjadi." Berkatalah orang majusi itu, "Wahai Syaikh, engkau bersikap kepadaku semacam ini dalam waktu yang lama sementara aku tetap di atas kekufuranku. Ulurkan tanganmu, karena aku sekarang bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah."

C. Berbagi

Ibnu Umar pernah mempunyai tetangga seorang Yahudi. Apabila menyembelih kambing beliau berkata, "Berilah tetangga kita yang Yahudi itu dagingnya."

Sikap Amirul Mu'minin Umar bin Al-Khaththab ketika terjadi persengketaan antara Muhammad bin Maslamah dan tetangganya. Tetangganya itu melarang Muhammad bin Maslamah mengalirkan air melalui kebunnya. Lalu keduanya melapor kepada Umar. Umar berkata: "Demi Allah, jika kamu melarang dia mengalirkan air melalui kebunmu, niscaya aku akan mengalirkan air tersebut melalui perutmu."

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah disebutkan bahwasanya Nabi bersabda: "Tidak boleh seseorang melarang tetangganya menancapkan kayu ke dinding rumahnya."

Oleh karena itu, Abu Hurairah pernah berkata, "Aku melihat kalian tidak mau mematuhi sunnah ini. Demi Allah, bila demikian, aku akan menancapkannya ke bahu kalian!"

Hadits diambil dari buku AL Gozali :
Nabi bersabda :
“Apakah kamu mengetahui, apa hak bertetangga?
Yaitu, kalau ia minta toong kepadamu, kamu harus menolongnya,
Kalau ia meminta bantuan kepadamu, kamu harus membantunya,
Kalau ia ingin berhutang kepadamu, kamu harus menghutanginya semampumu
Kalau ia fakir kamu harus mengutamakannya dengan pemberian,
Kalau ia sakit kamu harus menjenguknya,
Kalau ia meninggal dunia kamu harus menjenguknya,
Kalau ia mendapat kebaikan kamu harus mengucapkan selamat kepadanya
Dan bila ia tertimpa bencana kamu harus menghiburnya
Janganlah kamu meninggikan bangunan rumahmu sehingga menghalangi angina kerumahnya, kecuali mendapat izin darinya, dan jangan kamu menyakitinya
Apabila kamu membeli buah-buahan lebihkanlah untuk tetanggamu, kalau tidak melakukannya, maka masukanlah buah-buahan itu kerumahmu dengan sembunyi-sembunyi dan laranglah anak2mu membawa dan memakannya di luar rumah, agar anak-anak tetanggamu tidak melihatnya.
Dan janganlah kamu menyakitinya dengan bau masakanmu, kecuali kamu mengambil sedikit dariisi belanga itu untuknya.


di tulis ulang dari berbagi sumber.....

No comments: